#NO SUBJECT
( Tentang hati, bukan puisi )
#PART 1
Sering kita
menangis, menyalahkan hati kita yang telah memberikan rasa sedih yang mendalam
pada kita, padahal semua itu karena kebodohan kita sendiri.
Sering hati
yang disalahkan, hati yang saat ini saya bicarakan bukanlah hati yang membantu
pencernaan yang menghasilkan empedu untuk mengemulsikan lemak, kita di sini
adalah ‘HATI’ ( Perasaan ).
Seharusnya kita sadar, tanpa HATI ( perasaan ) keyakinan kita terhadap sesama akan pudar bahkan musnah, berujung kepada diri kita yang akan menjadi psikopat dan dunia akan berakhir lebih cepat dari yang kita bayangkan.
Seharusnya kita sadar, tanpa HATI ( perasaan ) keyakinan kita terhadap sesama akan pudar bahkan musnah, berujung kepada diri kita yang akan menjadi psikopat dan dunia akan berakhir lebih cepat dari yang kita bayangkan.
Marah,
sakit, perih, sedih, senang, bahagia, dan semua rasa yang pernah kita rasakan
dalam hidup berasal dari HATI ( perasaan ). Seorang anak kecil tidak akan
merasa senang saat dia diberi sesuatu yang dia inginkan jika dia tidak memiliki
HATI ( perasaan ).
Saya lelah
jika harus menulis kata “HATI” dengan diikuti oleh “( perasaan )”, mari
persingkat saja dengan “HATI”.
“PUISI”
adalah salah satu label yang sering saya sematkan di hampir sebagian besar
postingan saya, tapi kali ini saya tidak menyematkan label itu pada tulisan
saya ini, tap taukah anda bahwa sebuah puisi juga berasal dari HATI? Sejatinya,
puisi adalah suatu curahan HATI yang tersampaikan secara lembut, indah, dan
berirama. Puisi, menjadikan HATI lebih tenang, mencurahkan segala kekesalan
kita dengan cara positif, memberikan bacaan yang semakin beragam ketika kita
sering merasakan sesuatu ( dengan HATI ).
Puisi adalah
suatu hal yang indah, dalam pembuatannya kita memerlukan HATI, begitu pula
dalam pembacaannya, ketika kita masih dalam pendidikan di sekolah ( bukan
kuliah kecuali sastra Indonesia ), sering sekali kita maju ke depan kelas
karena diminta membacakan sebuah puisi. Lihatlah pada mereka yang membaca
dengan nada datar, guru akan berkata “ harus dihayati…” penghayatan haruslah
dengan HATI, bukan pikiran! Puisi bukanlah sesuatu yang biasa, dia adalah
sesuatu yang luar biasa! Oooppss!
HATI
berperan dalam segala hal, saat kita beranjak remaja lalu dewasa, kita pastilah
merasakan yang namanya cinta. Cinta melibatkan HATI, terkadang kita melakukan
hal yang diluar logika karena saat itu kita bicara berdasar pada HATI bukan
logika.
Orang dengan
HATI yang dingin akan sulit memahami arti cinta, sekalipun mungkin mereka bukan
psikopat, mereka pastilah sulit membiasakan diri dengan kata Cinta. Cinta tak
hanya berbicara tentang rasa suka, kagum, dan sayang terhadap lawan jenis, tapi
dengan sesama juga, kita bukanlah manusia individualis, kita juga tak bisa
memaksakan HATI kita. Disini kita bukan memaksakan hati yang dingin untuk
mencintai, tapi menuntunnya dan mengajarinya bagaimana seharusnya mencintai,
bukan dengan kekerasan tapi dengan lemah lembut supaya dia mengerti apa itu
Cinta yang sebenarnya “cinta adalah suatu yang lemah lembut yang membuatku
nyaman” cukup membuat seorang berhati dingin berpikir seperti itu, anda sudah
berhasil meluluhkan dan mencairkan bukit es di dalam hatinya.
To be continued
To be continued
0 komentar:
Posting Komentar