[ Bingkai Berjiwa ]
Pagi
ini seperti biasa, Hamdan kembali membersihkan bingkai-bingkai dagangannya. Ada
yang aneh dari Hamdan, dia tidak pernah membersihkan satu diantara bingkainya,
tampaknya bingkai itu paling tua diantara bingkai bingkainya yang lain dan
lebih indah tentunya. Ya… Hamdan mulai
menekuni pekerjaan itu sejak ia berumur lima belas tahun, saat ini umurnya
sudah mencapai dua puluh empat tahun, namun Hamdan masih saja menjadi pengrajin
bingkai dan masih melajang hingga saat ini padahal Hamdan lumayan tampan,baik,
dan dia sangat sopan, terlebih pada orang tua. Kembali ke bingkai aneh itu,
bingkai itu nyaris tak pernah disentuh oleh Hamdan, tak seorangpun tau mengapa
Hamdan tak pernah menyentuhnya, didalam bingkai itu terdapat lukisan sesosok bidadari
berselendangkan sutra indah yang tampak melayang dengan senyum yang mengembang
namun penuh kesedihan. Tak lama kemudian seseorang menyapanya dengan gemulai,
suaranya seperti lelaki namun begitu gemulai
“kang Hamdan… sibuk ya??” begitulah yang
ia ucapkan ( dengan nada genit?/),
“
Masya Allah… DONI!! Eh salah, DINI!!!
Apaan sih loe !! Pagi pagi udah bikin
jantungan orang aja loe!! Untung nih
jantung masih detek, coba kalo kagak?
Mau nggantiin nih jantung pake jantung loe
apa? Dasar cowok kagak normal loe!”
Hamdan benar benar sewot kali ini
“
Ye… akang jangan sewot dong ah… gak
normal gini akang kan cinta…” seru cowok
cewek gak tulen yang diketahui bernama Dini.
“what
? Gua cinta ama elu ? aduh… walaupun gua masih
lajang, gak berarti gua jadi buta
terus mau ya cinta ama loe !!” bentak
Hamdan dan tampak nada suaranya naik satu oktav, “ pergi loe dari hadapan gua !
cepetan!! Sebelum gua berubah pikiran
terus motong motong loe ! CEPET!!”
amuk Hamdan sambil melempar potongan kayu ke arah Dini / Doni, Dini lari
terbirit-birit, sambil sesenggukan dia berkata ” a…kang…I a…a…al…ways… lu…up yu… hiks… hikss…”
Setelah
Dini pergi, ingatan Hamdan berlari kembali ke masa lampau…
Saat
umurnya baru menginjak empat belas tahun, Hamdan masih menjadi seorang anak
yang bahagia karena orang tuanya sangaaaaattt kaya raya, merekalah yang memiliki
sekompleks rumah diatas tiga puluh Hektar tanah, sebuah rumah yang menjulang
tinggi setinggi seratus meter dengan dua puluh lantai, memiliki delapan lift,
di setiap mata angin terdapat dua lift, bak kerajaan modern yang letaknya tepat
ditengah tengah kompleksnya itu merupakan tempat tinggal orang tua Hamdan
bersama Hamdan, di utara “istana” itu, banyak pepohonan rimbun yang menghiasi
pinggiran jalan menuju gerbang, di timur “istana” ada sebuah tempat mirip kebun
binatang yang didalamnya terdapat kuda kuda hebat berbadan tegap berjumlah
seratus ekor jantan dan jumlah betina seratus lima puluh ekor, ada unta, zebra,
rusa, domba, sapi, sampai harimau pun turut didatangkan dari amerika yang mengkoar
koarkan diri pada saat itu memiliki anak harimau kualitas unggulan, tanpa pikir
panjang ayah ibu Hamdan langsung membelinya saat itu juga, di bagian barat
terdapat taman bunga yang bisa dijadikan tempat selfie, yaitu, kebiasaan para remaja sekarang berfoto foto ria
ditempat tempat yang strategis maupun tidak strategis (hahaha), dan di sebelah
selatan terdapat dapur yang sangaaaat besar tempat berkumpulnya chef yang
dipekerjakan oleh orang tua Hamdan, serta ditempat itu juga ada rumah rumah
untuk tempat tinggal pembantu dan pegawai mereka.
Suatu
hari orang tua Hamdan begitu gelisah, saat itu Hamdan berumur empat belas tahun
tahun, ternyata ada sebuah rahasia besar yaitu dibalik bingkai berlukiskan
bidadari terdapat gambaran dua puluh bintang yang kini hanya menyisakan dua
bintang emas saja, dahulu orang tua Hamdan memiliki sejarah, bingkai itu
lukisannya akan tersenyum ketika bintang itu terisi oleh minimal lima bintang,
namun saat ini hanya tersisa dua! Apa yang terjadi?? Itu ulah mereka sendiri,
mereka tak mau menolong sesama dan mulai menganggap uang dapat membeli segala
galanya, mereka menghina orang, namun tidak dengan Hamdan, dia tidak tahu apa
apa, dan dia juga berhati mulia, sejak saat itu harta benda orang tua hamdan
ludes dan yang tersisa hanyalah bingkai itu dan uang seratus milyar rupiah yang
berhasil diselamatkan oleh ayah ibu Hamdan untuk biaya hidup Hamdan dan ayah
ibunya.
Naas,
tak lama setelah itu, saat ayah dan ibu Hamdan menaiki sebuah angkot, tiba tiba
angkot itu oleng dan menabrak truk, ayah dan ibu Hamdan dilarikan ke rumah
sakit karena hanya mereka korban yang masih bernafas setelah kecelakaan itu
selain sang kondektur yang saat angkot oleng langsung melompat keluar.
Di rumah sakit
“Ayah…
Ibu…bagaimana ini bisa terjadi? Aku tak ingin sendiri… kalian harus sadar…”
Hamdan tampak sangat terpukul, tampak dia menahan tangisnya.
“Ham…dan…
an…ak….ku..” tampak ibu Hamdan tersadar dan memanggil nama anak semata
wayangnya itu dengan terbata bata
“
iya ibu… ibu sudah baikan?” Tanya Hamdan, raut mukanya sedikit cerah melihat
ibundanya tersadar
“
Ibu sudah sedikit lebih baik nak, tolong jaga bingkai ini ya nak, bingkai ini
bukan sembarang bingkai, bingkai ini adalah bingkai yang berjiwa” ucap sang ibu
sedikit kesusahan
“
maksud Ibu a…” kata katanya tergantung,
jantung Hamdan mendadak berdetak lebih kencang, mata Ibunya terpejam, kaku
diseluruh tubuhnya dan, detak jantung ibunya dalam layar kini hanya sebuah
garis yang berjalan dengan kencang, Hamdan berteriak yang mengagetkan dokter
yang memang ditugaskan untuk menjaga kondisi orang tua Hamdan, sang dokter
menggunakan alat kejut jantung, jantung sang ibu berhasil berdetak lagi
walaupun sangat lemah. ‘berhasil!’ sorak hati Hamdan, saat ibundanya terbangun
sebentar, dia hanya mengucapkan, “ selamat tinggal anakku, aku mencintaimu
selamanya…” setelah dituntun membaca syahadatain oleh hamdan, nafas terakhir
pun terhembus dari hidung sang ibu, dan… sang ibu yang sangat ia sayangi
kini telah pergi untuk selama lamanya. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un….
Kini
tersisa dia dan ayahnda yang masih menunggu keputusan tuhan layaknya sang
ibunda setempo yang lalu.
“Hamdan..” panggil ayah hamdan membuyarkan
lamunan Hamdan
“iya Ayah.. ada apa?” ucap Hamdan
menghampiri sang ayah dengan tergopoh gopoh, jantungnya berdetak kencang,
‘apakah ini untuk kedua kalinya?’
“nak, mana ibumu?” fyuh… hampir
saja Hamdan takut kejadian setempo lalu terulang
“sudah tiada ayah..” ujarnya sangat
hati-hati agar sang ayah tidak terkejut
dan tetap tenang.
“baiklah nak, jaga uang pemberian
kami yang terakhir dan bingkai itu, buatlah kebaikan dan jangan kau buat
kesalahan, jangan sampai kau bernasib seperti ayah ibumu nak… jadilah manusia
yang lebih baik lewat bingkai itu, ayah pergi menyusul ibumu ya nak… selamat
tinggal, ayah mencintaimu melebihi harta ayah dan segala-galanya kecuali tuhan,
peluk ayahmu ini, ucapkan syahadat bersama ayahmu nak… ayah ingin aroma badanmulah
yang terakhir kali ayah hirup, kemari nak…”
JEEEDDDDEEEER!!!!
‘TIDAK AYAH, JANGAN PERGI… JANGAN
TINGGALKAN HAMDAN…’ teriak Hamdan dalam keheningan hatinya, “ayah jangan pergi,
aku hanya memiliki ayah sekarang.. kumohon…” Hamdan memohon sambil sesekali
menetes bulir mutiara dari pelupuk matanya.
Dokter
dan suster yang sengaja berjaga disitu tampak berlinang air mata mendengar
permintaan terakhir seorang ayah kepada anaknya tercinta, “dekati ayahmu,
kabulkan permintaannya Hamdan.. sebelum nanti kau menyesal karena tak
mengabulkan permintaannya, bisa jadi itu adalah permintaan terakhirnya” ucap
sang dokter yang kebetulan teman dari sepupu Hamdan.
“kemari
nak, cepatlah, ayah ingin segera memelukmu disaat terakhir ini nak…” ucap sanga
ayah tetap meminta dengan penuh senyum dan mata bercucuran air mata.
Hamdan
berlari menuju ranjang ayahnya lebih dekat dan mendekap erat tubuh ayahnya yang
tampak begitu lemah, mereka berdua bersama sama mengucapkan syahadatain Bersamaan mereka membaca
dengan fasih.
“nak,
wangimu akan menjadi nafas terakhir ayahmu ini, semoga kau akan selalu di
hatiku meski nantinya hatiku akan tergerogoti tanah, namun rasa sayangku takkan
tergerogoti tanah, terimakasih anakku, aku mencintaimu ” ucap sang ayah Nampak
gemetar namun masih dengan senyumnya yang mengembang nampak bahagia.
“ayah, aku mencintaimu karena Allah ayah,
sampaikan salamku pada ibu jua ayah.. bahwa aku juga mencintainya karena Allah…
selamat jalan ayah… aku menyayangimu…” ucap Hamdan yang air matanya tampak
mulai bercucuran
“tentu
anakku, ayah juga menyayangimu, I love you my son… good bye my son, selamat
tinggal anakku sayang… aku selalu menyayangimu selamanya…”itulah kata-kata
terakhir dari sang ayah, setelah menghembuskan nafas terakhirnya sang ayah
tertidur selamanya di atas kasur rumah sakit dengan senyum yang tersungging di
bibirnya.
Itulah
penyebabnya Hamdan tidak menyentuh bingkai yang didalamnya terdapat lukisan
bidadari itu, yah… dia tak mau mengingat masa lalunya, dia tak mau mengingat
lagi bahwa hanya karena bingkai ini menghilangkan kedua orang tuanya dan dia
menjadi sebatang kara.
PRAAAAAAANNNNGGGGG
Suara
benda yang terjatuh yang berasal dari rumah tetangganya sangat memekakan telinga dan sontak membuat
Hamdan tersadar dari lamunan panjangnya dan segera menghapus air matanya yang
mulai menetes mengingat masa lampaunya yang kelam. ‘DINI BANGSAT!!!!!!
GARA-GARA ELU GUA JADI KEINGET MASA LALU GUA!!! AWAS LU BALIK LAGI GUA HABISIN
LU!!’ batinnya geram.
Tiba-tiba
sohib Hamdan bernama Syarif datang, nampaknya dia membawa seorang teman dan
seperti dugaan Hamdan, seperti biasanya kawan Syarif adalah orang yang ingin
membeli bingkai karya Hamdan yang memang sangat indah-indah itu.
“Assalamualaikum Hamdan, sohib lu dateng
nih…” ucap Syarif dengan Pe De-nya
“Wa’alaikumsalam… eh ternyata elu rif…sohib gua yang paling setia… ngomong-ngomong siapa nih?” kata Hamdan
sambil menunjukkan ekspresi saat dia bertanya, alis diangkat satu sambil
memperhatikan orang yang dibawa sohibnya itu.
“Tau aja lu… biasa bawa langganan… dia mau cari bingkai yang bagus buat
calon istrinya… biasa cari bingkai buat maharnya… namanya Ghufron” seru Syarif
sambil memperkenalkan kawan yang dibawanya itu.
Ghufron
tanpa dikomando langsung melihat-lihat bingkai yang dipajang di toko Hamdan dan
langsung terpana pada sebuah bingkai yang sudah ada lukisan yang indah, tanpa
pikir panjang Ghufron langsung mengambil bingkai itu dan bertanya pada Hamdan
berapa harganya, namun Hamdan berkata dengan tegas namun sopan bahwa itu adalah
kenang-kenangan dari kedua orangtuanya yang sudah almarhum. ‘sekali lagi gua harus inget sama masa lalu gua, bener bener nih hari pagi – pagi
udah emosi aja… sabar dan… sabar…’ batinnya dalam hati terasa dongkol.
Seraut kekecewaan nampak terbersit jelas di wajah
Ghufron atas pernyataan Hamdan, akhirnya setelah beberapa saat, Ghufron
menjatuhkan pilihannya pada salah satu diantara dua masterpiece milik Hamdan. Ghufron membayarnya dengan uang satu juta
rupiah tanpa pikir panjang, karena Ghufron sangat puas, walaupun dia tak
mendapatkan yang pertama, namun dia mendapatkan masterpiece milik Hamdan, betapa bahagianya Hamdan saat ini, jarang
sekali ada orang yang mau membayar sebuah bingkai dengan harga diatas lima
ratus ribu rupiah, karena menurut mereka, buatan Hamdan biasa saja dan tidak
elit, padahal di kenyataan, bingkai buatan Hamdan sangat indah dan halus
sekali. Yah karena faktor pelit seorang manusia dan akal – akal bulus yang
busuk dan selicin belut itulah penyebab utamanya. ‘nggak apa apa deh yang penting rejeki nomplok nemplok
di dompet gua hehe… puas nih hari…
gaji sehari satu juta! Cakep dah…’ kembali membatin si Hamdan (sering amat
membatinnya nak…^_*) dan kembali hatinya
begitu senang, lihat saja, setelah Ghufron pulang Hamdan menari seperti ballerina
amatiran (hueeekkksss).
Pada
malam harinya, Hamdan bermimpi bertemu dengan seorang bidadari dengan sebuah
bintang di punggungnya menyala, saat berbalik, sang bidadari berkata,
“bangunlah, ambil bingkai berlukiskan diriku, dan bicaralah padanya… aku juga
ingin berterimakasih padamu..”
“apa maksudmu dan siapa dirimu?
Untuk apa berterimakasih? Apa kau memiliki hutang budi” Tanya Hamdan tampak
begitu tegar sekaligus terkejut walaupun dalam hatinya dia ketakutan.
“aku bidadari dalam bingkai berjiwa
, aku berterimakasih karena engkau tidak
menjualku tadi.. jujur aku saat itu sangat takut terimakasih..” ucapnya santai
sekali sambil mengembangkan senyum indahnya.
“ini hanya halusinasiku kan? Bagaimana
bisa aku bicara dengan lukisan? Apa orang bilang? Hamdan gila? Nanti tidak ada
yang membeli bingkaiku bagaimana? Ah kau ini berbohong” ujar Hamdan sedikit
berseloroh namun juga serius sebenarnya
“tidak akan pernah kau kehilangan
pelangganmu, cukup taruh aku sebagai hiasan tokomu dan bersihkan bingkaiku
setiap hari, sekarang cepat bangunlah..” jelas si Bidadari sambil memaksa.
“baiklah,
bangunkan aku sekarang…” pinta Hamdan. Sekejap dia terbangun dan mendapati
bingkainya sudah di meja lampu tidurnya. ( karena memang sudah diletakkan
disitu sebelum tidur, DDDOOOOOEEEENGGG ).
bidadari didalamnya berbicara, “hai kamu!
Ham…Ham…”
“eh… ham…ham…ham…ham... emang
disangkanya aku babi apa? Aku Hamdan, aduh… cantik cantik lemah ingatan nih…”
Hamdan sewot lagi, dan spontan teringat
mimpinya yang terdapat sebuah bintang dipunggung si bidadari, dan benar saja, sebuah
bintang terindah dan terdekat dimatanya, “sebenarnya kamu siapa???” Hamdan
memasang mimikri (wadauh.. mimik… bukan mimikri -_-) wajah bertanyanya seperti
biasa… “ aku bidadari yang akan menuntunmu ke jalan yang lurus…” bidadari itu
membuat Hamdan semakin bingung apa yang kini tengah menerpanya? ”jalan lurus? Apa maksudmu? Keluarlah dari
bingkai, supaya aku bisa mempercayaimu…”ujar Hamdan tampak memohon sekaligus
dengan nada menantang, mendengar permintaan Hamdan, bidadari itu langsung
terbang keluar secara perlahan sambil riang gembira bidadari itu tampak mendendangkan sebuah lagu
yang tak jelas namun syahdu, Hamdan pun terhanyut dalam nyanyian bidadari itu,
saat tersadar, dengan segenap keberanian, Hamdan bertanya “tadi itu lagu apa?
Indah sekali.. aku menyukainya…” “oh.. itu bukan lagu, itu adalah mantra agar
bisa terbang… aku sudah lama tidak terbang, aku takut aku akan terjatuh, jadi
aku ucapkan lagi mantra itu…balablablablabla……” jelas bidadari cantik itu
panjaaaanngg lebar. Saking panjangnya, Hamdan malah tidur tanpa mempedulikan
bidadari secantik itu. Yah meskipun begitu, tampaknya bidadari itu tidak
menyadarinya sehingga melanjutkan perkataannya sampai dia tertidur karena
terlalu letih bicara panjang lebar. ( disamping hamdan tertidurnya )
Keesokan
harinya, Hamdan tidak terlambat bangun, dan seterusnya tak akan bangun
terlambat lagi, ya bidadari itu tidak pernah membiarkan Hamdan kesiangan,
bidadari itu yang menjaga Hamdan dari semua ancaman. Perlahan bintang di balik
bingkai itu bersinar lagi, muncul satu bintang lagi!
“aku
ajaib..” teriak Hamdan girang namun hanya dalam batin saja.. jika saja dia
masih berumur layaknya 18 tahun yang lalu, mungkin dia akan berjingkat ria
sambil memamerkan yang dia miliki, ya tapi kini dia tahu diri, justru saat ini
dia harus menyembunyikan yang dia miliki, dia teringat pesan ayahnya dan ibunya
kala itu…
“jagalah uang terakhir dari kami
dan jagalah bingkai itu, jangan sampai kau bernasib seperti ayah ibumu…”ucap
ayahnya kala itu, sesaat sebelum beliau menghembuskan napas terakhirnya. Yah….
Flashback diakhiri, karena keingintahuannya yang besar, dia bertanya dengan
bidadari itu “ kau dengar kan apa yang dikatakan ayahku disaat – saat
terakhirnya? Kau kan diletakkan di samping ranjang kasur tipis yang digunakan
ayahku untuk berbaring di rumah sakit..? iya kan? Maksud dia berkata ‘….jangan
sampai seperti ayah ibumu…’ maksud mereka apa? Jelaskan ..” cecar Hamdan pada
bidadari itu, tampaknya Hamdan sedikit resah.
“sabar… cukup pertanyaannya… kau
mencecarku, kapan aku akan berbicara? Baiklah mereka berkata seperti itu karena
mereka pernah terjerumus ke hal yang buruk karena terlalu kaya, ada dua pilihan
untukmu, sederhana namun bahagia dan cukup untuk membeli sesuatu yang layak,
atau kaya raya namun aku tak jamin kehidupanmu?” jelas si bidadari.
“aku
tak mau seperti ayahku… aku memilih hidup sederhana bahagia, oh iya siapa
namamu?” Jawaban dan pertanyaan itu akhirnya digabungkan Hamdan juga ( takutnya
lemah ingatan bidadari itu nular, :v ).
“Baiklah
jika itu memang keinginanmu… aku Dewi Raina, panggil saja aku Dera, kau ingin
aku tetap didalam bingkai atau sesekali memperbolehkan aku keluar, tenang saja,
lukisan dalam bingkainya takkan hilang..” seperti biasa Dera (ternyata itulah
namanya) berbicara panjang lebar yang kali ini didengarkan dengan seksama oleh
Hamdan, dia menatapi wajah Dera yang sejurus kemudian sadar dan wajahnya yang
seperti tomat matang nampak jelas oleh Hamdan, dia mengulum senyum, ‘Dera
tampak manis saat tersipu seperti itu, dia cukup cantik… arrrggh apa yang aku
pikirkan’ ucap Hamdan dalam hati (lagi). Sebenarnya Dera telah menaruh hati
pada Hamdan sejak awal mereka berbincang dalam mimpi, menurutnya, Hamdan adalah
seorang pahlawan, kelak jika Dera berkehendak, dia bisa menjadikan Hamdan
bidadari layaknya dirinya, dan tinggal di kahyangan bersama berdua dengan anak
anak mereka yang lucu lucu, yah dan lain sebagainya, semua bayangan indah itu
Dera simpan dalam hati untuknya sendiri.
Setahun
telah berlalu, hidup Hamdan sudah cukup sempurna, hidupnya akan sempurna
apabila dia memiliki pasangan, dan kini dia sudah memiliki kekasih, seorang
gadis yang begitu cantik. Setiap bercerita pada Dera, Hamdan tampak sangat
bersemangat, gadis yang ia sebut – sebut itu bernama Claudia, dan Claudia
sebenarnya hanya memanfaatkan uang Hamdan. Suatu hari…
“kau mau kemana Dera? “ Tanya
Hamdan sedikit aneh, tidak biasanya Dera sedingin itu dengan seenaknya keluar
tanpa izin pada Hamdan
“bukan urusanmu!” jawabnya dingin,
( sekarang Dera terkadang memakai baju layaknya manusia supaya dapat keluar
sesukanya, Hamdan yang membelikannya, waktu membelinya bersama Dera untuk
mencoba, Si mbak sempet bingung, habisnya Dera pake baju kaya penari gitu :v )
‘perubahan macam apa ini’ perkataan
itu tak keluar melalui mulutnya melainkan hanya sampai ke hati saja “kenapa
kau? Sakit kah?” Tanya Hamdan kembali nampak cemas sekarang.
“bidadari tak mungkin sakit! Kau
tolol sekali!” ucap Dera sedikit menekan
“sudahlah, kau tak usah bertanya,
aku pergi!” lanjutnya
“ya sudah, hati – hati” jawab
Hamdan tak mau berdebat lebih panjang
Dera
ternyata diam – diam pergi ke rumah Claudia, alamat Claudia didapatkannya dari
buku bacaan kesukaan Hamdan, foto Claudia yang memuakkan itu digunakan Hamdan
sebagai pembatas bukunya itu, ‘kenapa bukan aku Hamdan?? Aku yang sejak setahun
lalu selalu bersamamu..’ gerutunya dalam hati
Setelah sampai di rumah Claudia, tepat di
jendela kamarnya tanpa sengaja terdengar Claudia berbicara sendiri “ hari ini
aku akan memborong yang aku mau dengan uang Hamdan, dasar pria bodoh! Mau saja
ditipu, aku sama sekali tak mencintaimu tolol! Kau itu kampungan, bingkai
jualanmu saja menjijikkan, kampung! Yang jelas, lusa, aku akan memutuskannya
dan aku akan pacaran dengan Rudi, cowok yang aku puja sejak SMA yang tiba –
tiba menembakku, ahhh senangnya… dah Hamdan…” setelah berkata begitu, Claudia
tertawa cekakakan dengan nada sinis, “ memerah telinga Dera, dia yang mencintai
Hamdan dengan tulus tidak terbalaskan, sedangkan Claudia? Hanya memanfaatkannya
namun diterimanya! Bersungut sungutlah Dera dan pulang ke rumah, dia langsung
menemui Hamdan.
“Hamdan, tinggalkan Claudia! Dia
jahat! Bajingan, tak pantas untukmu”
ucap Dera sedikit kurang sopan sesaat setelah dia berhasil menemukan Hamdan
dirumahnya
Bingung melihat kelakuan Dera,
akhirnya bertanya “ apa maksudmu?”
“ehhhh… ya pokoknya dia tidak baik…
jangan pergi dengannya… tak pantas kau bersamanya Hamdan…” ucap Dera yang dapat
merasakan wajahnya merah padam
“lalu siapa yang pantas untukku?”
nampaknya kini Hamdan mulai serius
“pokoknya selain Claudia dan orang
baik – baik”
“seperti apa?”
“apa saja…” muka Dera mulai bertomat tomat ?/.
“ah kau aneh hari ini! Aku benci
kau yang seperti ini!”
“Ham………dan…” panggil Dera yang
nampaknya tak dipedulikan Hamdan yang nampak marah padanya.
dua
hari kemudian Hamdan mengerti apa maksud Dera, dia menyesal, namun Dera pergi
entah kemana? Ah… menyesal sudah Hamdan, hari harinya hanya dihabiskan melamun
dan membuat bingkai, bahkan dia pernah sampai terluka terkena gergaji karena
melamunkan seseorang yang baru ia sadari sangat menyayangi dirinya dan peduli
padanya, namun berakhir sudah hidupnya.
Beberapa
hari kemudian, Dera kembali ke Hamdan dan membawa sebuah ramuan dalam sebuah botol kecil yang mungkin hanya
15 ml isinya.
“minumlah Hamdan” Dera berucap
sangaaaaatt lembut
“apa ini? Aku kira kau tak akan
kembali lagi padaku Dera… aku rindu kamu, maafkan aku tak mempercayaimu” kata
Hamdan sedikit menggoda Dera yang mau tak mau memerah tomat sudah pipinya,
“ ya aku tahu kau merindukan aku (
sotoy ?/ ), sudahlah cepat, kau akan bisa terbang seperti aku, menjadi bidadari
manusia seperti aku, sebenarnya aku tak pernah pergi, aku sibuk mencari bahan
untuk membuat ramuan ini, kau tak bersalah sejak awal, aku sudah memaafkanmu
Hamdan…” senyum terlukis di bibir Dera dan menimbulkan lesung pipit di pipinya
yang mulus,
“aku mau meminum ramuan itu demi
kamu dan menggapai impianku untuk bisa
terbang, janjilah takkan pergi jauh dariku” diraihnya botol berisi ramuan itu
dan diminumnya dalam sekali tenggak saja. “ ya” jawab Dera singkat sambil
senyum terus tersungging di bibirnya.
Akhirnya setelah meminum ramuan itu, Hamdan
menjadi manusia bidadari dan menikah dengan Dera yang ayahnya secara khusus
datang dari kahyangan. Sejak itu, bingkai berjiwa sudah tak seperti sedia kala,
dia tetap berjiwa, menurut Hamdan, jiwa ayah ibunya tersisa dalam bingkai itu,
itulah sebabnya Hamdan mengganti lukisan Dera yang sekarang adalah istrinya
menjadi gambar orang tua Hamdan dan foto istrinya diberi bingkai lainnya.
Mereka
hidup bahagia walaupun mereka hidup dalam kesederhanaan, permintaan ayahnya
telah ia penuhi semuanya, sekarang adalah saatnya dia rajin berdo’a pada Tuhan
Yang Maha Esa agar orang tuanya tenang di alam lain yang akan ditemuinya ketika
dia sudah tiada nanti, namun takkan pernah itu terjadi, bidadari kan abadi
selamanya. Hingga hari akhir tiba.
Jiwa
dalam bingkai itu benar benar telah menuntunnya ke jalan yang lurus dan
akan menemaninya untuk seumur hidupnya
juga memberikan kebahagiaaan seperti yang jiwa itu janjikan. Ya, Dera telah
mewujudkan impian Hamdan dan memenuhi janjinya pada akhirnya.
Sekian dan Terimakasih...