About

Senin, 06 November 2017

Lalu aku hanya bisa tersenyum dan menyadari bahwa cinta itu sangat lucu.

Abstrak dan sangat sarat akan seni. Indah juga mengerikan. Sadarilah betapa mengerikannya cinta itu. Pernahkah kau rasanya ingin menyakiti dirimu sendiri? Yah walaupun hanya sekedar karena ingin melupakan dia yang kau cintai.

Semua hanya karen cinta. Kau bisa mati bunuh diri hanya karena (sekali lagi hanya karena) kekasihmu yang pergi. Seperti kisa Romeo dan Juliet.

Romeo nyatanya bunuh diri demi Julietnya yang hanya meminum racun palsu. Ahhh Bodoh!!

Kisah keagungan cinta yang MAHA BODOH!

upss maafkan aku.. tak apa kau hujat aku. Di Indonesia semua bebas berpendapat termasuk menghujat. Tapi, jangan kasuskan aku ke meja yang dilengkapi mikrofon duduk itu... apalagi membuatku harus duduk termangu dipojok ruangan petak jeruji besi yang menyebalkan 
aku masih suka menulis meski tiada yang pernah membaca tulisanku.

Sebenarnya yang lebih bodoh itu aku 
SUMPAH!!
Sudah tahu cerita bodoh, tapi kenyataannya aku pernah berharap pada kisah Romeo dan Juliet yang menjadi bagian dari sandiwara kisah hidupku, terutama kisah cintaku 

Lantas hari ini, aku mengatai kisah itu bodoh.

Nah, terbukti aku lebih bodoh dari kisah Maha Bodoh itu bukan?
Berharap pada ikon bodo mengenai keagungan cinta.

Seharusnya aku mencontoh cinta Fatimah dan Ali yang selalu melindungi kemurnian cintanya.

Bahkan Fatimah meminta maaf karena mencintai lelaki sebelum dia menikah yang tak lain adalah Ali.

Ahhh! Romantika cinta indah itu, mengapa harus datang setelah potret kebodohan cinta itu sempat menjadi anganku?

Barangkali begitulah Tuhan bermain dengan jutaan takdir
Ada garis besar pengaturan untuk umatNya. Mungkin supaya tak terlampau pusing.
Lihatlah cerah yang datang setelah redup
Seperti neraka sebelum surga
dan musibah datang lebi cepat dari bahagia


Dia hanya tidak meluruskan satu hal
Barangkali sengaja dia membuatnya sedikut berkelak-kelok menurutnya
dan menjadi sangat rumit menurut kita yang bahkan kadangkala tak paham dengan rumus matematika yang jelas kepastian ilmunya

ya itulah CINTA
bukan proses
bukan pula kejadian yang datang sebelum maupun sesudah yang cukup lazim

"cinta itu abstrak, seperti jailangkung, hanya saja dia lebih indah sekaligus lebih mengerikan. Jantungmu bisa meledak karena cinta"

Selasa, 16 Agustus 2016

Bu Zeni Irawati (guruku tercinta), blogku ternyata nggak rusak... jadi aku punya dua blog... :)
tadinya udah sedih, terus cepet cepet buat yang baru... eh pas di lab, udh bisa dibuka lagi... ye.... makasih bu...

Senin, 07 September 2015

Jiilaan Ronaa Aanisah

Aku memang tak bisa bernyanyi dengan puisi
Walaupun aku trus mencoba sampai senja umurku nanti
Dan aku tak bisa bercinta dengan berbatas cakrawalaMu
Karena aku bukan Taufiq Ismail, aku hanya kalong

Namun ketahuilah Pekalonganku
Ku buat ini sajak semalaman untukmu
Mengenang kejayaan jlamprang di masa yang akan datang
Mengenang kejayaan megono yang kini dianggap usang

Aku tak dapat mengutuk dengan pusi
Walau aku tahu, nafas jaman memang busuk sekali
Karena, sekali lagi ku beritahu
Aku bukan si legendaries Taufiq Ismail itu!!

Tapi aku mengakui
Nafas jaman makin busuk saja
Karena dipenuhi dengan rayuan keji
Agar Pekalongan tak lagi memiliki megononya
Agar semuanya punah dan lenyap dari sini

Pekalonganku
Aku berdo'a pada Tuhan
Agar kau selalu dan selamanya ada di sini
Di hati sanubari kami

Senin, 16 Desember 2013



#NO SUBJECT ( Tentang hati, bukan puisi )
#PART 1

            Sering kita menangis, menyalahkan hati kita yang telah memberikan rasa sedih yang mendalam pada kita, padahal semua itu karena kebodohan kita sendiri.
            Sering hati yang disalahkan, hati yang saat ini saya bicarakan bukanlah hati yang membantu pencernaan yang menghasilkan empedu untuk mengemulsikan lemak, kita di sini adalah ‘HATI’ ( Perasaan ).
            Seharusnya kita sadar, tanpa HATI ( perasaan ) keyakinan kita terhadap sesama akan pudar bahkan musnah, berujung kepada diri kita yang akan menjadi psikopat dan dunia akan berakhir lebih cepat dari yang kita bayangkan.
            Marah, sakit, perih, sedih, senang, bahagia, dan semua rasa yang pernah kita rasakan dalam hidup berasal dari HATI ( perasaan ). Seorang anak kecil tidak akan merasa senang saat dia diberi sesuatu yang dia inginkan jika dia tidak memiliki HATI ( perasaan ).
            Saya lelah jika harus menulis kata “HATI” dengan diikuti oleh “( perasaan )”, mari persingkat saja dengan “HATI”.
            “PUISI” adalah salah satu label yang sering saya sematkan di hampir sebagian besar postingan saya, tapi kali ini saya tidak menyematkan label itu pada tulisan saya ini, tap taukah anda bahwa sebuah puisi juga berasal dari HATI? Sejatinya, puisi adalah suatu curahan HATI yang tersampaikan secara lembut, indah, dan berirama. Puisi, menjadikan HATI lebih tenang, mencurahkan segala kekesalan kita dengan cara positif, memberikan bacaan yang semakin beragam ketika kita sering merasakan sesuatu ( dengan HATI ).
            Puisi adalah suatu hal yang indah, dalam pembuatannya kita memerlukan HATI, begitu pula dalam pembacaannya, ketika kita masih dalam pendidikan di sekolah ( bukan kuliah kecuali sastra Indonesia ), sering sekali kita maju ke depan kelas karena diminta membacakan sebuah puisi. Lihatlah pada mereka yang membaca dengan nada datar, guru akan berkata “ harus dihayati…” penghayatan haruslah dengan HATI, bukan pikiran! Puisi bukanlah sesuatu yang biasa, dia adalah sesuatu yang luar biasa! Oooppss!
            HATI berperan dalam segala hal, saat kita beranjak remaja lalu dewasa, kita pastilah merasakan yang namanya cinta. Cinta melibatkan HATI, terkadang kita melakukan hal yang diluar logika karena saat itu kita bicara berdasar pada HATI bukan logika.
            Orang dengan HATI yang dingin akan sulit memahami arti cinta, sekalipun mungkin mereka bukan psikopat, mereka pastilah sulit membiasakan diri dengan kata Cinta. Cinta tak hanya berbicara tentang rasa suka, kagum, dan sayang terhadap lawan jenis, tapi dengan sesama juga, kita bukanlah manusia individualis, kita juga tak bisa memaksakan HATI kita. Disini kita bukan memaksakan hati yang dingin untuk mencintai, tapi menuntunnya dan mengajarinya bagaimana seharusnya mencintai, bukan dengan kekerasan tapi dengan lemah lembut supaya dia mengerti apa itu Cinta yang sebenarnya “cinta adalah suatu yang lemah lembut yang membuatku nyaman” cukup membuat seorang berhati dingin berpikir seperti itu, anda sudah berhasil meluluhkan dan mencairkan bukit es di dalam hatinya.

To be continued



[ Bingkai Berjiwa ]
            Pagi ini seperti biasa, Hamdan kembali membersihkan bingkai-bingkai dagangannya. Ada yang aneh dari Hamdan, dia tidak pernah membersihkan satu diantara bingkainya, tampaknya bingkai itu paling tua diantara bingkai bingkainya yang lain dan lebih indah tentunya. Ya…  Hamdan mulai menekuni pekerjaan itu sejak ia berumur lima belas tahun, saat ini umurnya sudah mencapai dua puluh empat tahun, namun Hamdan masih saja menjadi pengrajin bingkai dan masih melajang hingga saat ini padahal Hamdan lumayan tampan,baik, dan dia sangat sopan, terlebih pada orang tua. Kembali ke bingkai aneh itu, bingkai itu nyaris tak pernah disentuh oleh Hamdan, tak seorangpun tau mengapa Hamdan tak pernah menyentuhnya, didalam bingkai itu terdapat lukisan sesosok bidadari berselendangkan sutra indah yang tampak melayang dengan senyum yang mengembang namun penuh kesedihan. Tak lama kemudian seseorang menyapanya dengan gemulai, suaranya seperti lelaki namun begitu gemulai
            kang Hamdan… sibuk ya??” begitulah yang ia ucapkan ( dengan nada genit?/),
            Masya Allah… DONI!! Eh salah, DINI!!! Apaan sih loe !! Pagi pagi udah bikin jantungan orang aja loe!! Untung nih jantung masih detek, coba kalo kagak? Mau nggantiin nih jantung pake jantung loe apa? Dasar cowok kagak normal loe!” Hamdan benar benar sewot kali ini
            “ Ye… akang jangan sewot dong ah… gak normal gini akang kan cinta…” seru cowok cewek gak tulen yang diketahui bernama Dini.
            “what ? Gua cinta ama elu ? aduh… walaupun gua masih lajang, gak berarti gua jadi buta terus mau ya cinta ama loe !!” bentak Hamdan dan tampak nada suaranya naik satu oktav, “ pergi loe dari hadapan gua ! cepetan!! Sebelum gua berubah pikiran terus motong motong loe ! CEPET!!” amuk Hamdan sambil melempar potongan kayu ke arah Dini / Doni, Dini lari terbirit-birit, sambil sesenggukan dia berkata ” a…kang…I a…a…al…ways… lu…up yu… hiks… hikss…”
            Setelah Dini pergi, ingatan Hamdan berlari kembali ke masa lampau…
            Saat umurnya baru menginjak empat belas tahun, Hamdan masih menjadi seorang anak yang bahagia karena orang tuanya sangaaaaattt kaya raya, merekalah yang memiliki sekompleks rumah diatas tiga puluh Hektar tanah, sebuah rumah yang menjulang tinggi setinggi seratus meter dengan dua puluh lantai, memiliki delapan lift, di setiap mata angin terdapat dua lift, bak kerajaan modern yang letaknya tepat ditengah tengah kompleksnya itu merupakan tempat tinggal orang tua Hamdan bersama Hamdan, di utara “istana” itu, banyak pepohonan rimbun yang menghiasi pinggiran jalan menuju gerbang, di timur “istana” ada sebuah tempat mirip kebun binatang yang didalamnya terdapat kuda kuda hebat berbadan tegap berjumlah seratus ekor jantan dan jumlah betina seratus lima puluh ekor, ada unta, zebra, rusa, domba, sapi, sampai harimau pun turut didatangkan dari amerika yang mengkoar koarkan diri pada saat itu memiliki anak harimau kualitas unggulan, tanpa pikir panjang ayah ibu Hamdan langsung membelinya saat itu juga, di bagian barat terdapat taman bunga yang bisa dijadikan tempat selfie, yaitu, kebiasaan para remaja sekarang berfoto foto ria ditempat tempat yang strategis maupun tidak strategis (hahaha), dan di sebelah selatan terdapat dapur yang sangaaaat besar tempat berkumpulnya chef yang dipekerjakan oleh orang tua Hamdan, serta ditempat itu juga ada rumah rumah untuk tempat tinggal pembantu dan pegawai mereka.
            Suatu hari orang tua Hamdan begitu gelisah, saat itu Hamdan berumur empat belas tahun tahun, ternyata ada sebuah rahasia besar yaitu dibalik bingkai berlukiskan bidadari terdapat gambaran dua puluh bintang yang kini hanya menyisakan dua bintang emas saja, dahulu orang tua Hamdan memiliki sejarah, bingkai itu lukisannya akan tersenyum ketika bintang itu terisi oleh minimal lima bintang, namun saat ini hanya tersisa dua! Apa yang terjadi?? Itu ulah mereka sendiri, mereka tak mau menolong sesama dan mulai menganggap uang dapat membeli segala galanya, mereka menghina orang, namun tidak dengan Hamdan, dia tidak tahu apa apa, dan dia juga berhati mulia, sejak saat itu harta benda orang tua hamdan ludes dan yang tersisa hanyalah bingkai itu dan uang seratus milyar rupiah yang berhasil diselamatkan oleh ayah ibu Hamdan untuk biaya hidup Hamdan dan ayah ibunya.
            Naas, tak lama setelah itu, saat ayah dan ibu Hamdan menaiki sebuah angkot, tiba tiba angkot itu oleng dan menabrak truk, ayah dan ibu Hamdan dilarikan ke rumah sakit karena hanya mereka korban yang masih bernafas setelah kecelakaan itu selain sang kondektur yang saat angkot oleng langsung melompat keluar.
Di rumah sakit
            “Ayah… Ibu…bagaimana ini bisa terjadi? Aku tak ingin sendiri… kalian harus sadar…” Hamdan tampak sangat terpukul, tampak dia menahan tangisnya.
            “Ham…dan… an…ak….ku..” tampak ibu Hamdan tersadar dan memanggil nama anak semata wayangnya itu dengan terbata bata
            “ iya ibu… ibu sudah baikan?” Tanya Hamdan, raut mukanya sedikit cerah melihat ibundanya tersadar
            “ Ibu sudah sedikit lebih baik nak, tolong jaga bingkai ini ya nak, bingkai ini bukan sembarang bingkai, bingkai ini adalah bingkai yang berjiwa” ucap sang ibu sedikit kesusahan
            “ maksud Ibu a…”  kata katanya tergantung, jantung Hamdan mendadak berdetak lebih kencang, mata Ibunya terpejam, kaku diseluruh tubuhnya dan, detak jantung ibunya dalam layar kini hanya sebuah garis yang berjalan dengan kencang, Hamdan berteriak yang mengagetkan dokter yang memang ditugaskan untuk menjaga kondisi orang tua Hamdan, sang dokter menggunakan alat kejut jantung, jantung sang ibu berhasil berdetak lagi walaupun sangat lemah. ‘berhasil!’ sorak hati Hamdan, saat ibundanya terbangun sebentar, dia hanya mengucapkan, “ selamat tinggal anakku, aku mencintaimu selamanya…” setelah dituntun membaca syahadatain oleh hamdan, nafas terakhir pun terhembus dari hidung sang ibu, dan…  sang ibu yang sangat  ia sayangi  kini telah pergi untuk selama lamanya. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un….
            Kini tersisa dia dan ayahnda yang masih menunggu keputusan tuhan layaknya sang ibunda setempo yang lalu.
 “Hamdan..” panggil ayah hamdan membuyarkan lamunan Hamdan
“iya Ayah.. ada apa?” ucap Hamdan menghampiri sang ayah dengan tergopoh gopoh, jantungnya berdetak kencang, ‘apakah ini untuk kedua kalinya?’
“nak, mana ibumu?” fyuh… hampir saja Hamdan takut kejadian setempo lalu terulang
“sudah tiada ayah..” ujarnya sangat hati-hati agar  sang ayah tidak terkejut dan tetap tenang.
“baiklah nak, jaga uang pemberian kami yang terakhir dan bingkai itu, buatlah kebaikan dan jangan kau buat kesalahan, jangan sampai kau bernasib seperti ayah ibumu nak… jadilah manusia yang lebih baik lewat bingkai itu, ayah pergi menyusul ibumu ya nak… selamat tinggal, ayah mencintaimu melebihi harta ayah dan segala-galanya kecuali tuhan, peluk ayahmu ini, ucapkan syahadat bersama ayahmu nak… ayah ingin aroma badanmulah yang terakhir kali ayah hirup, kemari nak…”
JEEEDDDDEEEER!!!!
‘TIDAK AYAH, JANGAN PERGI… JANGAN TINGGALKAN HAMDAN…’ teriak Hamdan dalam keheningan hatinya, “ayah jangan pergi, aku hanya memiliki ayah sekarang.. kumohon…” Hamdan memohon sambil sesekali menetes bulir mutiara dari pelupuk matanya.
            Dokter dan suster yang sengaja berjaga disitu tampak berlinang air mata mendengar permintaan terakhir seorang ayah kepada anaknya tercinta, “dekati ayahmu, kabulkan permintaannya Hamdan.. sebelum nanti kau menyesal karena tak mengabulkan permintaannya, bisa jadi itu adalah permintaan terakhirnya” ucap sang dokter yang kebetulan teman dari sepupu Hamdan.
            “kemari nak, cepatlah, ayah ingin segera memelukmu disaat terakhir ini nak…” ucap sanga ayah tetap meminta dengan penuh senyum dan mata bercucuran air mata.
            Hamdan berlari menuju ranjang ayahnya lebih dekat dan mendekap erat tubuh ayahnya yang tampak begitu lemah, mereka berdua bersama sama mengucapkan syahadatain Bersamaan mereka membaca dengan fasih.
            “nak, wangimu akan menjadi nafas terakhir ayahmu ini, semoga kau akan selalu di hatiku meski nantinya hatiku akan tergerogoti tanah, namun rasa sayangku takkan tergerogoti tanah, terimakasih anakku, aku mencintaimu ” ucap sang ayah Nampak gemetar namun masih dengan senyumnya yang mengembang nampak bahagia.
             “ayah, aku mencintaimu karena Allah ayah, sampaikan salamku pada ibu jua ayah.. bahwa aku juga mencintainya karena Allah… selamat jalan ayah… aku menyayangimu…” ucap Hamdan yang air matanya tampak mulai bercucuran
            “tentu anakku, ayah juga menyayangimu, I love you my son… good bye my son, selamat tinggal anakku sayang… aku selalu menyayangimu selamanya…”itulah kata-kata terakhir dari sang ayah, setelah menghembuskan nafas terakhirnya sang ayah tertidur selamanya di atas kasur rumah sakit dengan senyum yang tersungging di bibirnya.
            Itulah penyebabnya Hamdan tidak menyentuh bingkai yang didalamnya terdapat lukisan bidadari itu, yah… dia tak mau mengingat masa lalunya, dia tak mau mengingat lagi bahwa hanya karena bingkai ini menghilangkan kedua orang tuanya dan dia menjadi sebatang kara.
PRAAAAAAANNNNGGGGG
            Suara benda yang terjatuh yang berasal dari rumah tetangganya  sangat memekakan telinga dan sontak membuat Hamdan tersadar dari lamunan panjangnya dan segera menghapus air matanya yang mulai menetes mengingat masa lampaunya yang kelam. ‘DINI BANGSAT!!!!!! GARA-GARA ELU GUA JADI KEINGET MASA LALU GUA!!! AWAS LU BALIK LAGI GUA HABISIN LU!!’ batinnya geram.
            Tiba-tiba sohib Hamdan bernama Syarif datang, nampaknya dia membawa seorang teman dan seperti dugaan Hamdan, seperti biasanya kawan Syarif adalah orang yang ingin membeli bingkai karya Hamdan yang memang sangat indah-indah itu.
“Assalamualaikum Hamdan, sohib lu  dateng nih…” ucap Syarif dengan Pe De-nya
“Wa’alaikumsalam… eh ternyata elu rif…sohib gua yang paling setia… ngomong-ngomong siapa nih?” kata Hamdan sambil menunjukkan ekspresi saat dia bertanya, alis diangkat satu sambil memperhatikan orang yang dibawa sohibnya itu.
“Tau aja lu… biasa bawa langganan… dia mau cari bingkai yang bagus buat calon istrinya… biasa cari bingkai buat maharnya… namanya Ghufron” seru Syarif sambil memperkenalkan kawan yang dibawanya itu.
            Ghufron tanpa dikomando langsung melihat-lihat bingkai yang dipajang di toko Hamdan dan langsung terpana pada sebuah bingkai yang sudah ada lukisan yang indah, tanpa pikir panjang Ghufron langsung mengambil bingkai itu dan bertanya pada Hamdan berapa harganya, namun Hamdan berkata dengan tegas namun sopan bahwa itu adalah kenang-kenangan dari kedua orangtuanya yang sudah almarhum. ‘sekali lagi gua harus inget sama masa lalu gua, bener bener nih hari pagi – pagi udah emosi aja… sabar dan… sabar…’ batinnya dalam hati terasa dongkol.
            Seraut  kekecewaan nampak terbersit jelas di wajah Ghufron atas pernyataan Hamdan, akhirnya setelah beberapa saat, Ghufron menjatuhkan pilihannya pada salah satu diantara dua masterpiece milik Hamdan. Ghufron membayarnya dengan uang satu juta rupiah tanpa pikir panjang, karena Ghufron sangat puas, walaupun dia tak mendapatkan yang pertama, namun dia mendapatkan masterpiece milik Hamdan, betapa bahagianya Hamdan saat ini, jarang sekali ada orang yang mau membayar sebuah bingkai dengan harga diatas lima ratus ribu rupiah, karena menurut mereka, buatan Hamdan biasa saja dan tidak elit, padahal di kenyataan, bingkai buatan Hamdan sangat indah dan halus sekali. Yah karena faktor pelit seorang manusia dan akal – akal bulus yang busuk dan selicin belut itulah penyebab utamanya. ‘nggak apa apa deh yang penting rejeki nomplok nemplok di dompet gua hehe… puas nih hari… gaji sehari satu juta! Cakep dah…’ kembali membatin si Hamdan (sering amat membatinnya nak…^_*)  dan kembali hatinya begitu senang, lihat saja, setelah Ghufron pulang Hamdan menari seperti ballerina amatiran (hueeekkksss).
            Pada malam harinya, Hamdan bermimpi bertemu dengan seorang bidadari dengan sebuah bintang di punggungnya menyala, saat berbalik, sang bidadari berkata, “bangunlah, ambil bingkai berlukiskan diriku, dan bicaralah padanya… aku juga ingin berterimakasih padamu..”
“apa maksudmu dan siapa dirimu? Untuk apa berterimakasih? Apa kau memiliki hutang budi” Tanya Hamdan tampak begitu tegar sekaligus terkejut walaupun dalam hatinya dia ketakutan.
“aku bidadari dalam bingkai berjiwa  , aku berterimakasih karena engkau tidak menjualku tadi.. jujur aku saat itu sangat takut terimakasih..” ucapnya santai sekali sambil mengembangkan senyum indahnya.
“ini hanya halusinasiku kan? Bagaimana bisa aku bicara dengan lukisan? Apa orang bilang? Hamdan gila? Nanti tidak ada yang membeli bingkaiku bagaimana? Ah kau ini berbohong” ujar Hamdan sedikit berseloroh namun juga serius sebenarnya
“tidak akan pernah kau kehilangan pelangganmu, cukup taruh aku sebagai hiasan tokomu dan bersihkan bingkaiku setiap hari, sekarang cepat bangunlah..” jelas si Bidadari sambil memaksa.
            “baiklah, bangunkan aku sekarang…” pinta Hamdan. Sekejap dia terbangun dan mendapati bingkainya sudah di meja lampu tidurnya. ( karena memang sudah diletakkan disitu sebelum tidur, DDDOOOOOEEEENGGG ).
             bidadari didalamnya berbicara, “hai kamu! Ham…Ham…”
            “eh… ham…ham…ham…ham... emang disangkanya aku babi apa? Aku Hamdan, aduh… cantik cantik lemah ingatan nih…”
             Hamdan sewot lagi, dan spontan teringat mimpinya yang terdapat sebuah bintang dipunggung si bidadari, dan benar saja, sebuah bintang terindah dan terdekat dimatanya, “sebenarnya kamu siapa???” Hamdan memasang mimikri (wadauh.. mimik… bukan mimikri -_-) wajah bertanyanya seperti biasa… “ aku bidadari yang akan menuntunmu ke jalan yang lurus…” bidadari itu membuat Hamdan semakin bingung apa yang kini tengah menerpanya?  ”jalan lurus? Apa maksudmu? Keluarlah dari bingkai, supaya aku bisa mempercayaimu…”ujar Hamdan tampak memohon sekaligus dengan nada menantang, mendengar permintaan Hamdan, bidadari itu langsung terbang keluar secara perlahan sambil riang gembira  bidadari itu tampak mendendangkan sebuah lagu yang tak jelas namun syahdu, Hamdan pun terhanyut dalam nyanyian bidadari itu, saat tersadar, dengan segenap keberanian, Hamdan bertanya “tadi itu lagu apa? Indah sekali.. aku menyukainya…” “oh.. itu bukan lagu, itu adalah mantra agar bisa terbang… aku sudah lama tidak terbang, aku takut aku akan terjatuh, jadi aku ucapkan lagi mantra itu…balablablablabla……” jelas bidadari cantik itu panjaaaanngg lebar. Saking panjangnya, Hamdan malah tidur tanpa mempedulikan bidadari secantik itu. Yah meskipun begitu, tampaknya bidadari itu tidak menyadarinya sehingga melanjutkan perkataannya sampai dia tertidur karena terlalu letih bicara panjang lebar. ( disamping hamdan tertidurnya )
            Keesokan harinya, Hamdan tidak terlambat bangun, dan seterusnya tak akan bangun terlambat lagi, ya bidadari itu tidak pernah membiarkan Hamdan kesiangan, bidadari itu yang menjaga Hamdan dari semua ancaman. Perlahan bintang di balik bingkai itu bersinar lagi, muncul satu bintang lagi!
            “aku ajaib..” teriak Hamdan girang namun hanya dalam batin saja.. jika saja dia masih berumur layaknya 18 tahun yang lalu, mungkin dia akan berjingkat ria sambil memamerkan yang dia miliki, ya tapi kini dia tahu diri, justru saat ini dia harus menyembunyikan yang dia miliki, dia teringat pesan ayahnya dan ibunya kala itu…
“jagalah uang terakhir dari kami dan jagalah bingkai itu, jangan sampai kau bernasib seperti ayah ibumu…”ucap ayahnya kala itu, sesaat sebelum beliau menghembuskan napas terakhirnya. Yah…. Flashback diakhiri, karena keingintahuannya yang besar, dia bertanya dengan bidadari itu “ kau dengar kan apa yang dikatakan ayahku disaat – saat terakhirnya? Kau kan diletakkan di samping ranjang kasur tipis yang digunakan ayahku untuk berbaring di rumah sakit..? iya kan? Maksud dia berkata ‘….jangan sampai seperti ayah ibumu…’ maksud mereka apa? Jelaskan ..” cecar Hamdan pada bidadari itu, tampaknya Hamdan sedikit resah.
“sabar… cukup pertanyaannya… kau mencecarku, kapan aku akan berbicara? Baiklah mereka berkata seperti itu karena mereka pernah terjerumus ke hal yang buruk karena terlalu kaya, ada dua pilihan untukmu, sederhana namun bahagia dan cukup untuk membeli sesuatu yang layak, atau kaya raya namun aku tak jamin kehidupanmu?” jelas si bidadari.
            “aku tak mau seperti ayahku… aku memilih hidup sederhana bahagia, oh iya siapa namamu?” Jawaban dan pertanyaan itu akhirnya digabungkan Hamdan juga ( takutnya lemah ingatan bidadari itu nular, :v ).
            “Baiklah jika itu memang keinginanmu… aku Dewi Raina, panggil saja aku Dera, kau ingin aku tetap didalam bingkai atau sesekali memperbolehkan aku keluar, tenang saja, lukisan dalam bingkainya takkan hilang..” seperti biasa Dera (ternyata itulah namanya) berbicara panjang lebar yang kali ini didengarkan dengan seksama oleh Hamdan, dia menatapi wajah Dera yang sejurus kemudian sadar dan wajahnya yang seperti tomat matang nampak jelas oleh Hamdan, dia mengulum senyum, ‘Dera tampak manis saat tersipu seperti itu, dia cukup cantik… arrrggh apa yang aku pikirkan’ ucap Hamdan dalam hati (lagi). Sebenarnya Dera telah menaruh hati pada Hamdan sejak awal mereka berbincang dalam mimpi, menurutnya, Hamdan adalah seorang pahlawan, kelak jika Dera berkehendak, dia bisa menjadikan Hamdan bidadari layaknya dirinya, dan tinggal di kahyangan bersama berdua dengan anak anak mereka yang lucu lucu, yah dan lain sebagainya, semua bayangan indah itu Dera simpan dalam hati untuknya sendiri.
            Setahun telah berlalu, hidup Hamdan sudah cukup sempurna, hidupnya akan sempurna apabila dia memiliki pasangan, dan kini dia sudah memiliki kekasih, seorang gadis yang begitu cantik. Setiap bercerita pada Dera, Hamdan tampak sangat bersemangat, gadis yang ia sebut – sebut itu bernama Claudia, dan Claudia sebenarnya hanya memanfaatkan uang Hamdan. Suatu hari…
“kau mau kemana Dera? “ Tanya Hamdan sedikit aneh, tidak biasanya Dera sedingin itu dengan seenaknya keluar tanpa izin pada Hamdan
“bukan urusanmu!” jawabnya dingin, ( sekarang Dera terkadang memakai baju layaknya manusia supaya dapat keluar sesukanya, Hamdan yang membelikannya, waktu membelinya bersama Dera untuk mencoba, Si mbak sempet bingung, habisnya Dera pake baju kaya penari gitu :v )
‘perubahan macam apa ini’ perkataan itu tak keluar melalui mulutnya melainkan hanya sampai ke hati saja “kenapa kau? Sakit kah?” Tanya Hamdan kembali nampak cemas sekarang.
“bidadari tak mungkin sakit! Kau tolol sekali!” ucap Dera sedikit menekan
“sudahlah, kau tak usah bertanya, aku pergi!” lanjutnya
“ya sudah, hati – hati” jawab Hamdan tak mau berdebat lebih panjang
            Dera ternyata diam – diam pergi ke rumah Claudia, alamat Claudia didapatkannya dari buku bacaan kesukaan Hamdan, foto Claudia yang memuakkan itu digunakan Hamdan sebagai pembatas bukunya itu, ‘kenapa bukan aku Hamdan?? Aku yang sejak setahun lalu selalu bersamamu..’ gerutunya dalam hati
             Setelah sampai di rumah Claudia, tepat di jendela kamarnya tanpa sengaja terdengar Claudia berbicara sendiri “ hari ini aku akan memborong yang aku mau dengan uang Hamdan, dasar pria bodoh! Mau saja ditipu, aku sama sekali tak mencintaimu tolol! Kau itu kampungan, bingkai jualanmu saja menjijikkan, kampung! Yang jelas, lusa, aku akan memutuskannya dan aku akan pacaran dengan Rudi, cowok yang aku puja sejak SMA yang tiba – tiba menembakku, ahhh senangnya… dah Hamdan…” setelah berkata begitu, Claudia tertawa cekakakan dengan nada sinis, “ memerah telinga Dera, dia yang mencintai Hamdan dengan tulus tidak terbalaskan, sedangkan Claudia? Hanya memanfaatkannya namun diterimanya! Bersungut sungutlah Dera dan pulang ke rumah, dia langsung menemui Hamdan.
“Hamdan, tinggalkan Claudia! Dia jahat! Bajingan, tak pantas untukmu” ucap Dera sedikit kurang sopan sesaat setelah dia berhasil menemukan Hamdan dirumahnya
Bingung melihat kelakuan Dera, akhirnya bertanya “ apa maksudmu?”
“ehhhh… ya pokoknya dia tidak baik… jangan pergi dengannya… tak pantas kau bersamanya Hamdan…” ucap Dera yang dapat merasakan wajahnya merah padam
“lalu siapa yang pantas untukku?” nampaknya kini Hamdan mulai serius
“pokoknya selain Claudia dan orang baik – baik”
“seperti apa?”
“apa saja…”  muka Dera mulai bertomat tomat ?/.
“ah kau aneh hari ini! Aku benci kau yang seperti ini!”
“Ham………dan…” panggil Dera yang nampaknya tak dipedulikan Hamdan yang nampak marah padanya.
            dua hari kemudian Hamdan mengerti apa maksud Dera, dia menyesal, namun Dera pergi entah kemana? Ah… menyesal sudah Hamdan, hari harinya hanya dihabiskan melamun dan membuat bingkai, bahkan dia pernah sampai terluka terkena gergaji karena melamunkan seseorang yang baru ia sadari sangat menyayangi dirinya dan peduli padanya, namun berakhir sudah hidupnya.
            Beberapa hari kemudian, Dera kembali ke Hamdan dan membawa sebuah ramuan  dalam sebuah botol kecil yang mungkin hanya 15 ml isinya.
“minumlah Hamdan” Dera berucap sangaaaaatt lembut
“apa ini? Aku kira kau tak akan kembali lagi padaku Dera… aku rindu kamu, maafkan aku tak mempercayaimu” kata Hamdan sedikit menggoda Dera yang mau tak mau memerah tomat sudah pipinya,
“ ya aku tahu kau merindukan aku ( sotoy ?/ ), sudahlah cepat, kau akan bisa terbang seperti aku, menjadi bidadari manusia seperti aku, sebenarnya aku tak pernah pergi, aku sibuk mencari bahan untuk membuat ramuan ini, kau tak bersalah sejak awal, aku sudah memaafkanmu Hamdan…” senyum terlukis di bibir Dera dan menimbulkan lesung pipit di pipinya yang mulus,
“aku mau meminum ramuan itu demi kamu dan menggapai impianku untuk  bisa terbang, janjilah takkan pergi jauh dariku” diraihnya botol berisi ramuan itu dan diminumnya dalam sekali tenggak saja. “ ya” jawab Dera singkat sambil senyum terus tersungging di bibirnya.
             Akhirnya setelah meminum ramuan itu, Hamdan menjadi manusia bidadari dan menikah dengan Dera yang ayahnya secara khusus datang dari kahyangan. Sejak itu, bingkai berjiwa sudah tak seperti sedia kala, dia tetap berjiwa, menurut Hamdan, jiwa ayah ibunya tersisa dalam bingkai itu, itulah sebabnya Hamdan mengganti lukisan Dera yang sekarang adalah istrinya menjadi gambar orang tua Hamdan dan foto istrinya diberi bingkai lainnya.
            Mereka hidup bahagia walaupun mereka hidup dalam kesederhanaan, permintaan ayahnya telah ia penuhi semuanya, sekarang adalah saatnya dia rajin berdo’a pada Tuhan Yang Maha Esa agar orang tuanya tenang di alam lain yang akan ditemuinya ketika dia sudah tiada nanti, namun takkan pernah itu terjadi, bidadari kan abadi selamanya. Hingga hari akhir tiba.
            Jiwa dalam bingkai itu benar benar telah menuntunnya ke jalan yang lurus dan akan  menemaninya untuk seumur hidupnya juga memberikan kebahagiaaan seperti yang jiwa itu janjikan. Ya, Dera telah mewujudkan impian Hamdan dan memenuhi janjinya pada akhirnya.
Sekian dan Terimakasih...



OPINIKU
                Tadi jam ketiga dan keempat kelas X MIPA 2 adalah pelajaran PPKn, di situ aku tak ingat darimana percakapan antara aku dan kawanku dimulai, tapi yang jelas inilah opiniku
                Indonesia adalah negara yang demokratis dimana semua rakyatnya mempunyai kedudukan yang sama, saling menghormati HAM setiap insan. Negara Indonesia adalah Negara yang memperbolehkan masyarakatnya menganut salah satu dari 5 agama dan tidak ada diskriminasi ( peng-anaktirian ) kepada salah satu etnis tertentu.
                Ini adalah zaman saling toleransi, zaman emansipasi wanita, semua manusia dari jenis kelamin apapun dan dari ras atau etnis apapun memiliki hak dan kedudukan yang sama di Negara Indonesia.
                Pertanyaanku, kenapa masih saja ada orang yang meng anak tirikan beberapa etnis di negara kita? Kita sebagai rakyat pribumi harus tahu bahwa pemegang kekuasaan tertinggi tidak selalunya kita, kita bukan perlu masyarakat pribumi asli, kita perlu seseorang yang dapat menghantarkan kita untuk menjadi negara yang benar benar makmur, benar benar dipandang, dan benar benar kuat hukumnya.
                Sekarang kuajak kalian berpikir, kalau kita memaksakan kaum pribumi selalu berkuasa, kita memaksakan kaum islam berkuasa, tapi jika mereka korupsi apakah kita akan damai? Jika mereka menyengsarakan rakyat apakah kita akan makmur?
                Kita seharusnya menerapkan system hukum demokratis bukan menjurus ke hukum islam, ayolah kawan… jika umat islam ingin terus memimpin, maka ayo umat islam belajarlah lebih giat, jangan bermalas malasan sehingga kita terkalahkan oleh orang beragama lain, jika kita ingin memimpin kita harus mau belajar menjadi pemimpin yang amanah, jujur, pandai, dan penyampai bak nabi supaya kita benar benar diakui bahwa kita adalah pemimpin sejati.
                Kita tidak boleh menentang apabila suatu hari seorang dari etnis tiong hoa ingin memimpin karena dia mampu, jika ingin tetap umat islam memimpin maka jadilah umat islam yang bermoral baik, pahamilah perjuangan nenek moyang kakek buyut kita sebelum kau ingin memimpin. Kita harus sportif, ingin menang ya berusaha dengan “baik” dan bersungguh sungguh tanpa ada campur tangan money politic sebaik baiknya pemimpin adalah dia yang bisa memegang teguh amanat dan janjinya serta dapat dipercaya.
                Kaum wanita bukan tidak mungkin akan menempati singgasana kepemimpinan suatu negara, karena dia mampu, dia sanggup. Jangan pernah berkata “ pemimpin hanya dari golongan kaum adam ”
Kalian boleh jadi imam di rumah, tapi kursi kepemimpinan itu terserah siapa yang sanggup, memang disarankan laki laki, tapi apabila seorang wanita sanggup membenahi bangsa, lalu apa salahnya?
Jangan berkata “ pemegang tongkat kekuasaan suatu daerah, negara dan sebagainya haruslah kaum pribumi ” lalu jika tiada yang mampu mengemban tugas sebagai pemimpin dan justru dia menyengsarakan kita bagaimana? Kita akan tetap ngotot membela sedangkan kita sendiri terpuruk?

Jangan mengecamku karena opiniku, setiap manusia memiliki opininya masing masing, jangan pernah kalian meremehkan seorangpun, opini yang berbeda membuat kita beragam.
Kalian tidak bisa melarangku, dan tidak bisa mempidanaku karena apa yang ku katakana, karena ini hakku dan tidak mencela kaum manapun, aku ingin Indonesia damai, demokratis dan adil, aku sangat ingin Indonesia Bahagia dan terbebas dari keterpurukan


JAYA INDONESIA